Vrydag, 22 Maart 2013

MAKALAH “HISTORIOGRAFI TRADISIONAL MITOS”


BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Secara etimologis,istilah Historiografi berasal dari bahasa Yunani,yang terdiri dari 2 kata yaitu “Historia” dan “grafein” yang berarti “gambaran”,”tulisan”.atau “uraian”.Istilah historia sudah dikenal di Yunani sejak 500 SM. Misalnya Hecataeus,menggunakan kata tersebut untuk menyebut  penelitiannya tentang gejala alam yang terdapat di daerah hunian manusia di Yunani.Istilah ini kemudian digunakan pula oleh Herodotus untuk melukiskan Latar belakang geografis dalam karyanya mengenai peperangan di persia (Betty Radice and Robert Baldick 1971).Dalam perkembangan selanjutnya,istilah historia cenderung digunakan untuk menyebut pengkajian kronologis tentang tindakan manusia pada masa lampau.Dalam bahasa inggris kemudian dikenal dengan istilah Historigraphy,yang didefinisikan secara umum sebagai “a study of historical writing” (pengkajian tentang penulisan sejarah) Harry Elmer barnes 1963.
   Akan tetapi pada hakekatnya hostoriografi mempunyai beberapa poengertian yaitu:
a.       Historiografi sebagai bagian terakhir dari prosedur metode sejarah yang di artikan sebagai “Rekonstruksi imajinatif tentang masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses menguji,dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau” (LouisGottschalk 1975:32).Historiografi dalam pengertian ini dapat dikategorikan sebagai proses penulisan secara objektif.
b.      Historiografi yang diartikan sebagai pengkajian tentang karya-karya sejarah yang oernah ditulis,atau pengkajian tentang sejarah yang bersifat subjektif.Dalam pengertian ini sering dikatakan sebagai “sejarah dari sejarah” atau “Sejarah dari penulisan sejarah” artinya pengkajian perkembangan penulisan sejarah.
Dalam pengertian pertama,historiografi dikaji dalam mata kuliah “metode sejarah”,sedangkan mata kuliah Hostoriografi mempelajari historiografi dalam pengertian kedua. Keanekaragaman bentuk, isi, serta fungsi histiografi, disebabkan oleh adanya :
a.       Kultuurgebundenheit ( ikatan kebudayaan ) yang artinya suatu karya histiografi tidak terlepas dari lingkungan kebudayaan tempat sejarawan dan karyannya dilahirkan.
b.      Tijdgebundenheit atau Zeitgeist ( ikatan waktu atau jiwa Zaman ) , yang artinya : pandangan seorang penulis sejarah yang terkandung dalam karyanya ditentukan oleh jiwa zaman yang hidup pada masanya. ( Sartono Kartodirdjo, 1986 ).
Yang akan dijadikan pokok pengkajian studi Histiografi ini meliputi, penulis sejarah, intelektualisasi serta pengaruhnya terhadap bentuk, isi, fungsi dan permasalahan yang diajukan dalam karya sejarah yang ditulis. Di Indonesia,historiografi dimulai dengan prasasti-prasasti yang dibuat oleh penguasa pada awal abad ke-5 Masehi,sejak saat itu historiografi di indonesia berkembang dalam berbagai bentuk.Akan tetapi penulisan sejarah (diluar prasasti) baru dimulai oleh Mpu Prapanca yang pada tahun 1365 menulis kitab Nagarakertagama atau Desawarnana ( Ayat Rohaedi, 1985 ). Sejak itu Historigrafi Indonesia berkembang terus, baik dalam hal bentuk, isi, ruang lingkup maupun pendekatanya, sehingga dikenal kategori – kategori Historigrafi Tradisional. Histiografi kolonial. Histiografi Nasional dan Histiografi modern.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Mitos ?
2.      Bagaimana peranan Mitos dalam penulisan Historiografi?
3.      Bagaimana Dinamika Mitos dalam Sejarah?

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui Pengertian Mitos dalam Historiografi.
2.      Untuk mengetahui peranan Mitos dalam penulisan Historiografi.
3.      Untuk mengetahui Dinamika Mitos dalam  penulisan Sejarah.


1.4   Manfaat
1.         Sebagai sumber informasi dan pengetahuan atas Historiografi Tradisional.
2.         Sebagai motivasi untuk melanjutkan penulisan Historiografi di masa sekarang dan selanjutnya dalam bentuk yang berbeda.
3.         Sebagai suatu pengalaman dan pembelajaran dalam pembuatan Historiografi Tradisional.

1.5   Metode
    Adapun metode yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan buku-buku sumber yang berkaitan dengan “Historiografi Tradisional Mitos” , kemudian mencari informasi dari media cetak maupun media elektronik, semisal koran, televisi, internet dll.


BAB II PEMBAHASAN

Mitologi  merupakan salah satu peninggalan sejarah yang digarap secara tradisional (tidak menggunakan metode keilmuan yang bersifat analitis-kritis), karena itu mitologi dalam pandangan sejarah sebagai karya penulisan sejarah lokal atau historiografi tradisional. Sebagai historiografi tradisional, isi atau muatan mitos terdiri dari unsur sastra (prosa rakyat; tradisi lisan). Menurut Bascom yang dikutip Danandjaya (1991) cerita rakyat atau folklor dibagi atas tiga golongan besar, yaitu mitos, legenda dan dongeng. Mitos sering dianggap benar-benar terjadi dan suci oleh masyarakat yang empunya cerita.
Histiografi tradisional yang berusaha menggambarkan kenyataan yang ditangkap berdasarkan emosi dan kepercayaan, salah satu karakteristik mitos adalah adanya ketergantungan yang erat antara manusia dan kekuatan gaib diluar dirinya. Artinya kemanusiaan itu senantiasa berada dibawah pengaruh tenaga – tenaga gaib yang bersumber pada kekuatan tertentu, seperti penjuru mata angin, binatang – binatang, planit – planit, pohon – pohon, gunung – gunung, dsb. Kekuatan gaib ini dalam pandangan masyarakat penganut tradisi mitos, mungkin menghasilkan kemakmuran, kesejahteraan atau berbuat kehancuran, malapetaka, bergantung kepada = apakah manusia dapat atau tidak dapat menyelaraskan kehidupan dan kegiatan mereka dengan jagat raya. Jadi terdapat kaitan erat antara dunia mikrokosmos ( manusia ) dengan makro kosmos  ( jagat Raya ).
Keyakinan semacam inilah yang disebut kosmis – magis atau theogony. Karakteristik lain dari mitos adalah prinsip pars pro toto ( sebagian untuk semua ), yaitu usaha untuk mengindentikkan yang sebagian dengan yang lainnya. Misalnya = kesaktian sehelai rambut dari seseorang yang dianggap sakti, yang meliputi juga kesaktian orang yang menyimpan rambut orang sakti tersebut. Contoh lain, seorang raja yang sakti dianggap akan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakatnya.
Mitos sebagai produk suatu kebudayaan, memegang peranan penting kelangsungan hidup masyarakat, pemegang tradisi mitos, sehingga mitos harus dikenal, diturunkan atau diwariskan kepada generasi penerusnya. Fungsi mitos disini adalah untuk menjaga keharmonisan hidup dari luar. Berdasarkan pandangan diatas, kita mengenal Histiografi tradisional yang menceritakan tentang legenda asal-usul nenek moyang,  Asal usul nama suatu tempat, dsb. Yang menurunkan tradisi mereka dianggap benar dan rasional.
Mitos dapat dikategorikan sebagai karya sastra sejarah. Unsur-unsur sastranya terdiri dari: cerita, mitos, legenda, ramalan, simbolisme, pantangan, dan lain-lain. Unsur-unsur sastra ini kemudian dicampur-adukan dengan unsur-unsur sejarah. Misalnya, dalam mitologi orang Sangir dan Orang Talaud, tokoh-tokoh yang berperan (penulis batasi tokoh perempuan, seperti Kondawulaeng) adalah unsur sejarah, diceritakan sebagai keturunan yang pertama (sejarah genealogi), melalui keturunan bidadari-bidadari dan burung, (unsur mitos), kemudian menikah dengan bidadari (legenda), dan seterusnya.
Mitos sering dianggap sebagai suatu cerita yang aneh, sulit dipahami serta sulit diterima kebenarannya karena tidak masuk akal, penuh kegaiban atau tidak sesuai dengan yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun begitu, dengan dianggap gaib, tidak masuk akal itulah yang menjadikan mitos selalu menarik perhatian dari sarjana berbagai disiplin dan masyarakat umumnya. Kebenaran peristiwa maupun tokoh dalam mitos sulit dibuktikan, tetapi harus diakui bahwa mitos merupakan sociofact yang ada dalam masyarakat, sukubangsa, dan bangsa di dunia manapun.
Di Sulawesi Utara misalnya masyarakat Minahasa mengenal mitos Toar dan Lumimuut, masyarakat Gorontalo dengan mitos Hulontalangi atau pengembara yang turun dari langit, masyarakat Bolaang-Mongondow mengenal mitos Gumalangit dan Tendeduata, dan masyarakat Sangir-Talaud mengenal mitos Gumansalangi dan Bidadari (Pulau Sangir Besar), Sense Madunde (Pulau Siau), Alamona Ntaumata Ntalodda (Talaud).
Mitos berawal dari sebuah tradisi lisan yang berhubungan ritus-religius. Bagi kaum teolog, mitos merupakan cerita suci yang berwujud simbol-simbol yang mengisahkan serangkaian peristiwa nyata dan imajiner mengenai asal-usul dan perubahan alam, dunia langit, dewa-dewi, kekuatan adikodrati-supernatural, manusia, kepahlawanan, dan masyarakat.
Persoalan sekarang, adalah bagaimana kita mengembangkan metodologi yang tepat untuk memanfaatkan tradisi lisan (mitos) sebagai sumber sejarah. Menurut Vansina (1991) tradisi lisan atau mitos merupakan sumber sejarah yang potensial yang dapat dianggap sebagai historiology—jangan dulu dianggap sebagai historiografi. Dengan kata lain, tradisi lisan lebih merupakan suatu hipotesa, seperti halnya sejarawan juga punya hipotese tentang masa lampau yang mau dikaji. Posisi sejarawan, pertama-tama harus menempatkan mitos sebagai hipotese sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah. Metodologi lain adalah dengan membandingkan unsur-unsur sejarah dalam mitologi yang akan digunakan, perlu ada cek and ricek dengan sumber lain, atau ada sumber pembanding guna memperoleh kebenaran. Metodologi seperti ini dikenal dengan prinsip “coherence theory of truth” (Ankersmit, 1987).


2.1  Mitos Mengandung Maksud
Mitos merupakan pencampuradukan dewa-dewa manusia, sejarah dan perristiwa keseharian. Hal-hal itu bercampur dalam sebuah penulisan sejarah. Sehingga untuk menjadikan karya penulisan sejarah itu mejadi sebuah sumber sejarah perlu dilakukan sebauh kritik sejarah yang relevan. Mitos diperlukan karena keinginan pujangga sebagai tokoh yang mengadakan penulisan sejarah dengan dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa. Mitos akan melukiskan sejarah dari perlaku-perilaku supranatural. Perilaku supranatural menurut akal sehat sangat sulit untuk diterima, melainkan dalam melihat konteks supranatural tersebut perlu menggunakan kaca mata yang berbeda. Perilaku supranatural tersebut ada karena pada zaman penulisan hal itu merupakan sebuah sifat linuwih, sehingga orang itu memiliki sebuah kedudukan dan kehormatan. Selain itu didukung oleh keadaan masyarakat yang masih percaya akan hal itu, menjadikan hal-hal yang bersifat supranatural dapat berkembang secara pesat.
Mitos mengangap sejarah sebagai hal yang mutlak kebenarannya dan keramat. Sejarah merupakan sebuah peristiwa masa lalu, namun peristiwa itu tidak dapat menyampaikan kebenaran peristiwa tersebut secara mutlak. Sejarah dalam arti objektif adalah peristiwa masa lampau yang telah terjadi. Namun, sejarah pada kategori historiografi tradisional mendapatkan sebuah tekanan untuk menyakini, bahwa peristiwa terjadi seperti apa yang telah dituliskan oleh pujangga atau sejarawan yang menulis sebuah peristiwa dalam konteks kebudayaan Jawa. Masyarakat yang hidup pada masa historiografi tradisional tidak diberikan untuk menginterprestasikan sebuah peristiwa yang telah terjadi.
Mitos akan selalu menghubungkan antara seseorang dengan ”pencipataan” tentang keberaan, institusi, dan perilaku. Menghubungkan seorang tokoh dengan proses penciptaan merupakan sebuah supremai kekuasaan, dan dapat diartikan sebagai sebuah pandangan sempit tentangtokoh tersebut. Tokoh tersebut diagambarkan seakan-akan sebagai perfect man atau orang yang sempurna. Padahal dalam dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Masyarakat akan selalu berpikir untuk melawan atau berperilaku, dan berhubungan dengan orang tersebut. Dari situ memunculkan konsep tentang sabdo pandhita ratu yang berrati bahwa ucapan seorang raja sama dengan sabda Tuhan. Mnejadikan perintah raja tidak boleh ditolak atau tidak boleh tidak dijalankan.
Mitos dapat sebagai alat untuk mencari asal-usul. Asal-usul hal dalam ini dapat diartikan sebagi asal-usul sebuah tempat atau asal-usul seseorang. Sebagai contohnya bila diketahui tentang asal-usul seseorang, orang akan dapat melakukan sebuah kontrol dan memanipulasi sesuatu sesuai kehendaknya. Kontrol tersebut akan memberikan sebuah kekuasaan atau legitimasi. Dalam hal tersebut dapat dilihat mengenai asal-usul Sultan Agung yang dapat diartikan sebagai sebuah mitos. Sultan Agung dalam historiografi tanah Jawa merupakan keturunan dari Nabi Adam dan tokoh-tokoh pewayangan. Hal itu memnag sulit untuk diterima apalagi Sultan Agung merupakan keturunan dari seorang tokoh pewayangan.
Dalam sebuah penghayatan mengenai mitos seseorang atau dalam hal yang lebih luas lagi masyarakat akan hidup dalam alam yang serba keramat. Seseorang yang hidup dalam alam yang serba keramat akan selalu berhati-hati dalam menjalani hidup. Bila dapat mengkontrol hal terbut ketertiban masyarakat akan terjamin dan berlangsung sesuai keinginan seorang penguasa.
Mitos dapat diartikan sebagi alat penertiban tertib sosial. Seorang pujangga akan berusaha menyampaikan maksud politiknya untyk memperkuat kedudukan sng patrion atau seorang penguasa. Sebagai contohnya dalam serat cebolek, Pembangunan yang dilakukan oleh para priyayi adalah pembangunan mentalitas. Pembangunan mentalitas dilaksanakan karena kerajaan (Kartasura) telah kehilangan ”kekuasaan politiknya”. Kekuasaan yang dimiliki seorang raja untuk memerintah, terlalu banyak dicampuri oleh kepentingan kompeni. Raja tidak memiliki kekuasaan untuk memimpin kerajaannya. Untuk tetap memiliki pengaruh pada rakyat, untuk tetap memiliki kekuasaan pada diri setiap masyarakat Jawa. Sehingga raja berupaya untuk menanamkan kekuasaannya pada bidang spiritualis dan mentalitas masyarakat Jawa.
Pembangunan mental spiritual dan mentalitas akan terlaksana bila kerajaan memiliki alat. Alat inilah sebagai motor penggerak mencapai tujuan pembangunan itu. Motor penggerak itu berupa kepemimpinan komunitas Islam. Kepemimpinan komunitas Islam berasal dari golongan elit agama. Golongan itu berasal dari kalangan guru, haji, dan kiai. Golongan ini memiliki peranan penting dalam pelaksanaan ritual-ritual keagamaan, dan memberikan pelayanan keagamaan.
.

2.2  Dinamika Mitos Dalam Sejarah
Mitos berasal dari bahasa Yunani mythos, yang berarti dongeng (Kuntowijoyo, 1999:7). Lama sebelum manusia menulis sejarah secara ilmiah, mitos telah lebih dulu hadir dan mampu menjawab pertanyaan “wie es eigentlich gewesen,” yaitu bagaimana sesuatu sesungguhnya bisa terjadi (Kartodirdjo, 1982:16). Dengan kata lain, secara historis, sebenarnya mitos adalah nenek moyang sejarah. Keduanya sama-sama berupaya menceritakan masa lalu dengan caranya masing-masing.
Kuntowijoyo (1999:8) membedakan mitos dan sejarah hanya pada dua titik singgung. Pertama, mitos memiliki unsur waktu yang tidak jelas. Berbeda dengan sejarah yang menekankan pada keberadaan unsur waktu yang kronologis, justru mitos mengabaikan peranan waktu sama sekali. Mitos tidak memiliki perhatian pada awal, akhir, kapan suatu peristiwa terjadi, atau suatu urutan masa tertentu yang kronologis. Ia sengaja tidak menjelaskannya secara tegas karena bagi mitos bukan waktu yang terpenting dalam menjelaskan kapan suatu peristiwa terjadi, melainkan lebih mengutamakan apa dan bagaimana sesuatu terjadi. Kartodirdjo (1982:16) menilai, mitos lebih berfungsi untuk membuat masa lalu bermakna dengan memusatkan kepada bagian-bagian masa lampau yang mempunyai sifat tetap dan berlaku secara umum, karenanya dalam mitos tidak ada unsur waktu yang jelas.
Titik singgung yang kedua, terletak pada anggapan bahwa mitos memuat kejadian yang tidak masuk akal—menurut sudut pandang orang masa kini. Pada titik inilah, sejarawan modern dengan arogan menganggap mitos tidak layak menjadi bagian dari sejarah. Sejarah modern mengklaim bahwa ia mampu menjelaskan masa lalu menurut standar rasio yang berlaku di masa sekarang. Mitos yang seringkali menjelaskan masa lalu yang kabur dari pandangan manusia, akhirnya dibalut dengan berbagai takhayul untuk menjelaskan suatu fenomena. Inilah usaha manusia rasional untuk menjelaskan masa lalu. Sebagai contoh kasus, ada mitos dogmatis—yang diimani oleh agama-agama besar saat ini—bahwa manusia pertama yang ada di dunia adalah Adam dan Hawa yang diciptakan dari tanah. Namun kapan Adam dan Hawa diciptakan dan kapan mereka diturunkan ke dunia? tidak terdapat petunjuk waktu yang jelas untuk menjawab pertanyaan ini. Pun pertanyaan, bagaimana tanah bisa menjadi manusia juga tidak akan pernah bisa dijawab oleh rasio manusia dewasa ini. Meski demikian, manusia yang beriman bisa menjelaskan tentang bagaimana mereka diciptakan dan mengapa mereka diturunkan ke dunia secara lengkap dan mendetil walau tanpa disertai penunjuk waktu kapan peristiwa itu terjadi.
Menurut Horkheimer (dalam Sindhunata, 1982:123-124), mitos adalah keirasionalan, takhayul atau khayalan, pendeknya sesuatu yang tak berada dalam kontrol kesadaran dan rasio manusia. Yang perlu dipahami, bahwa mitos sebenarnya merupakan percobaan-percobaan manusia untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tentang alam semesta, tentang dirinya sendiri. Dalam mitologi Yunani, seperti yang dituturkan dalam syair-syair Heseidos, Pherekydes, dan Homeros, memang mereka sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia tentang alam semesta itu, tapi jawaban yang diberikan justru dalam bentuk mitos yang meloloskan diri dari tiap-tiap kontrol pihak rasio. Baru pada abad enam sebelum Masehi, mitos digebrak oleh rasio, dan sejak saat itu orang mulai mencari-cari jawaban rasional tentang problem-problem yang diajukan alam semesta. Logos (akal budi, rasio) sudah mengemansipasikan diri dari mitos. Horkheimer lebih menunjuk titik ini sebagai awal aufklarung bukan abad kedelapan belas Masehi. Maka otoritas dewa-dewa dalam mitos secara perlahan digusur oleh pengertian rasional manusia. Bagi Anaxagoras, pelangi bukan lagi merupakan titian dewi jelita yang sedang bertugas sebagai duta bagi dewa-dewa lain, tapi pelangi adalah pantulan cahaya matahari dalam awan-awan (Sindhunata, 1982:69-70).
Ketika rasional diutamakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia akan diri dan alamnya, maka terjadilah revisi total melalui proses demitologisasi. Demitologisasi merupakan upaya-upaya sadar untuk menghilangkan mitos dengan cara memberi jawaban alternatif yang lebih rasional dan diterima oleh logika manusia. Tentu setiap peradaban memiliki periode yang berbeda-beda sebagai titik peralihan tahap mitos ke rasional.
Hubungan mitos dengan sejarah dengan demikian mengalami pasang surut sesuai dengan jiwa zaman yang berlaku. Pada awalnya, mitos dengan sejarah tidak bisa dibedakan dengan tegas karena keduanya berupaya untuk menjelaskan masa lalu sesuai dengan kemampuan dalam eksplanasi yang bisa dijangkau manusia kala itu. Ketika mitos dinegasikan akibat menguatnya posisi rasio dalam menjelaskan masa lalu, mitos akhirnya dicampakkan oleh sejarah. Bahkan sejarah tidak mengakui hubungan kekerabatannya dengan mitos. Sejarah akhirnya memadu kasih secara monogami dengan rasio, untuk menjelaskan masa lalu manusia. Ironisnya, rasio yang dipakai manusia dalam menjelaskan masa lalunya, terkadang—untuk tidak mengatakan selalu—terjebak dalam upaya untuk menciptakan masa lalu sesuai dengan harapannya. Secara tidak sadar, manusia menciptakan mitos-mitos baru dalam penulisan sejarahnya. Mengenai bukti bahwa manusia secara tidak sadar—maupun sadar—menciptakan mitos dalam sejarah yang rasional, akan dibahas pada bagian berikutnya dengan contoh kasus pada sejarah Indonesia.
Kondisi yang semacam ini, adalah sejalan dengan pemikiran Horkheimer. Menurutnya, usaha manusia rasional adalah mitos, sebab usaha manusia rasional tidak dapat berdiri sendiri, tidak otonom, tidak dapat mengenal dirinya sendiri: usaha manusia rasional itu terjadi, ada, dan mengenal dirinya hanya berkat dan di dalam mitos. Dengan kata lain, usaha manusia rasional itu niscaya atau tidak dapat tidak adalah mitos sendiri. Sebaliknya, pada hakekatnya mitos itu adalah usaha manusia rasional, sebab tanpa usaha manusia rasional mitos tidak akan mengenal dirinya sebagai mitos. Baru dengan usaha manusia rasional mitos terjadi, ada dan mengenal dirinya sebagai mitos. Jadi mitos juga tidak otonom, tidak dapat berdiri sendiri, tidak dapat mengenal dirinya sendiri: mitos terjadi, ada, dan mengenal dirinya sendiri hanya berkat dan di dalam usaha manusia rasional. Dengan kata lain, mitos niscaya atau tidak dapat tidak adalah usaha manusia rasional sendiri (Sindhunata, 1982:124).
Bukti yang lain, adalah keberadaan aliran posmodernisme yang mengkritik habis sejarah yang mengklaim dirinya rasional dan terbebas dari mitos, ternyata mengandung berbagai mitos sebagai upaya pengagungan terhadap masa lalu dan dirinya sendiri. Dekonstruksi yang ditawarkan oleh posmodernisme, membawa harapan rasional yang baru untuk menghapuskan mitos dalam sejarah modern. Celakanya, posmodernisme kelak akan terbukti hanya membawa mitos baru belaka.




BAB III PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Mitos sering dianggap tidak masuk akal akan tetapi  kenyataannya ada kelompok masyarakat tertentu menempatkan mitos sebagai bagian dari kehidupannya (kebudayaan setempat). Dalam kajian sejarah mitos dapat digunakan sebagai sumber analisis dalam proses narasi historis. Sekecil apapun terdapat nilai kebenaran sejarah yang mengikuti jalannya cerita mitos tersebut.
Histiografi tradisional yang berusaha menggambarkan kenyataan yang ditangkap berdasarkan emosi dan kepercayaan, salah satu karakteristik mitos adalah adanya ketergantungan yang erat antara manusia dan kekuatan gaib diluar dirinya. Artinya kemanusiaan itu senantiasa berada dibawah pengaruh tenaga – tenaga gaib yang bersumber pada kekuatan tertentu, seperti penjuru mata angin, binatang – binatang, planit – planit, pohon – pohon, gunung – gunung, dsb. Kekuatan gaib ini dalam pandangan masyarakat penganut tradisi mitos, mungkin menghasilkan kemakmuran, kesejahteraan atau berbuat kehancuran, malapetaka, bergantung kepada = apakah manusia dapat atau tidak dapat menyelaraskan kehidupan dan kegiatan mereka dengan jagat raya. Jadi terdapat kaitan erat antara dunia mikrokosmos ( manusia ) dengan makro kosmos  ( jagat Raya ).
Mitos sebagai produk suatu kebudayaan, memegang peranan penting kelangsungan hidup masyarakat, pemegang tradisi mitos, sehingga mitos harus dikenal, diturunkan atau diwariskan kepada generasi penerusnya. Fungsi mitos disini adalah untuk menjaga keharmonisan hidup dari luar. Berdasarkan pandangan diatas, kita mengenal Histiografi tradisional yang menceritakan tentang legenda asal-usul nenek moyang,  Asal usul nama suatu tempat, dsb. Yang menurunkan tradisi mereka dianggap benar dan rasional.

3.2   Kritik dan Saran
Mungkin dalam pembuatan makalah yang kami buat banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu penulis bersedia menerima saran maupun kritik demi perbaikan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Arief. 1999. Posmo: Apa Sih?. Dalam Suyoto (eds), Posmodernisme dan Masa Depan Peradaban (hlm.21-24). Yogyakarta: Aditya Media
Hakim, M. Arief. 1999. Sinyal ‘Kematian’ Posmodernisme. Dalam Suyoto (eds), Posmodernisme dan Masa Depan Peradaban (hlm.303-309). Yogyakarta: Aditya Media
Hardiman, Budi. 1993. Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat, Politik, dan Posmodernisme menurut Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius
Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: suatu alternatif. Jakarta: Gramedia
Kuntowijoyo. 1999. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya
Nordholt, Henk Schulte; Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari. 2008. Memikir Ulang Historiografi Indonesia. Dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, & Ratna Saptari (eds). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (hlm.1-31) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, & Pustaka Larasan

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking